Ketika UHC Plus Tinggal Nama

Screenshot 20260727 160041 Chrome

Ada ironi yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Program UHC Plus di Kabupaten Cianjur pernah dipromosikan sebagai salah satu kebanggaan pemerintahan Bupati Wahyu Ferdian. Ia dipresentasikan sebagai bukti bahwa negara hadir untuk memastikan setiap warga memperoleh akses layanan kesehatan tanpa hambatan biaya.

Kini, kebanggaan itu justru berada di persimpangan. Ratusan ribu peserta BPJS PBI dinonaktifkan, sementara masyarakat mulai bertanya-tanya apakah UHC Plus masih benar-benar hidup atau hanya tersisa sebagai slogan politik.

Yang membuat keadaan ini semakin ironis adalah persoalan tersebut tidak semata-mata lahir karena ketidakmampuan fiskal daerah. Dengan APBD Kabupaten Cianjur yang mencapai lebih dari Rp4 triliun, kebutuhan anggaran sekitar Rp300 miliar untuk menjaga keberlangsungan UHC Plus sesungguhnya hanya sekitar 9 persen dari total belanja daerah.

Pertanyaannya menjadi sederhana: jika kesehatan adalah hak dasar warga, mengapa anggaran sebesar itu terasa begitu berat? Bukankah fungsi utama APBD adalah menjamin pelayanan publik, terutama pendidikan dan kesehatan?

Di sinilah ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan diuji. Infrastruktur penting. Gedung-gedung baru penting. Program pembangunan juga penting. Namun, tidak ada pembangunan yang lebih mendasar daripada memastikan seorang ibu tetap bisa membawa anaknya berobat, seorang buruh tidak takut jatuh miskin karena biaya rumah sakit, atau seorang lansia tetap memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dibayangi status kepesertaan yang tiba-tiba tidak aktif.

UHC bukan sekadar angka dalam laporan kinerja. Ia adalah rasa aman yang dimiliki warga ketika sakit datang tanpa diundang.

Karena itu, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan alasan defisit atau kendala administratif. Pemerintah Kabupaten Cianjur perlu menunjukkan keberpihakan melalui kebijakan anggaran yang jelas. Jika memang diperlukan penyesuaian belanja, maka kesehatan semestinya menjadi prioritas yang tidak boleh dikorbankan.

Kepercayaan publik dibangun bukan oleh banyaknya klaim keberhasilan, melainkan oleh konsistensi menjaga program yang menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat. UHC Plus pernah menjadi kebanggaan. Akan sangat disayangkan apabila pada akhirnya ia dikenang sebagai janji yang perlahan kehilangan makna.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menilai pemerintah dari seberapa megah sebuah program diumumkan. Mereka menilai dari satu pertanyaan sederhana: ketika mereka sakit, apakah negara benar-benar hadir?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *