OPINI  

Demi Masa !

Ada kata yang pendek, tetapi usianya lebih panjang daripada sebuah rezim: masa. Ia bukan sekadar rentang waktu. Ia adalah saksi. Ia menyimpan jejak kaki yang tak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika manusia berusaha menghapusnya dengan pidato, baliho, atau statistik.

“Demi masa.”

Kalimat itu terdengar seperti sebuah sumpah. Seolah waktu sedang mengangkat tangan, lalu bersaksi tentang manusia yang datang silih berganti. Ada yang memimpin dengan kerendahan hati, ada pula yang sibuk membangun monumen bagi dirinya sendiri. Tetapi masa tak pernah bisa dibohongi. Ia mencatat semuanya dengan sabar.

Kita sering mengira sejarah dibentuk oleh para pemenang. Padahal sejarah lebih sering ditulis oleh waktu. Dan waktu tidak mengenal rasa sungkan. Ia bisa mengubah pujian menjadi ironi, dan mengubah tepuk tangan menjadi keheningan.

Di kota-kota kecil, di jalan yang berlubang, di ruang kelas yang bocor, di rumah sakit yang antreannya panjang, waktu bekerja tanpa suara. Ia mengukur bukan seberapa banyak janji diucapkan, melainkan seberapa banyak yang ditepati.

Kekuasaan, pada akhirnya, hanyalah tamu. Masa adalah pemilik rumah.

Mungkin karena itu, ayat yang singkat itu terasa begitu mengguncang. Ia tidak berbicara tentang kemenangan, melainkan tentang kerugian manusia yang menyia-nyiakan waktunya. Sebab yang paling mahal dalam hidup bukanlah jabatan, melainkan kesempatan yang tak kembali.

Kita hidup dalam zaman yang gaduh. Semua ingin cepat dikenang, cepat dipuji, cepat menjadi besar. Tetapi masa selalu meminta sesuatu yang lain: kesungguhan, kejujuran, dan keberanian untuk meninggalkan jejak yang layak diingat.

Sebab ketika semua pidato telah selesai, ketika semua baliho telah diturunkan, ketika semua nama perlahan memudar, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana:

Apa yang telah kita lakukan dengan masa yang dipinjamkan kepada kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *