OPINI  

Metty, Golkar, dan Sebuah Cara Memimpin

Screenshot 20260725 094001 Gallery

Politik sering kali berisik. Terlalu berisik, bahkan. Orang lebih sibuk menghitung kubu daripada mendengarkan watak. Yang diperdebatkan sering bukan kemampuan, melainkan kemungkinan. Seolah-olah kepemimpinan hanya perkara siapa yang paling lantang.

Padahal organisasi tidak selalu tumbuh dari suara yang keras. Ia justru sering bertahan karena ada tangan-tangan yang sabar merawatnya.

Barangkali di situlah nama Metty Triantika menarik untuk dibaca.

Ia tidak lahir begitu saja dalam ruang politik Cianjur. Ada jalan yang telah ditempuhnya. Menjadi Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Barat bukan sekadar mengurus angka. Dalam politik, keuangan adalah soal kepercayaan. Dan kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal dalam sebuah organisasi.

Hari ini ia memimpin DPRD Kabupaten Cianjur. Sebuah ruang yang mengajarkan bahwa politik bukan sekadar memenangkan pendapat, tetapi juga merawat perbedaan. Sebab lembaga itu berdiri di atas kompromi, bukan amarah.

Mungkin karena pengalaman itu, cara Metty memimpin lebih menyerupai seorang yang ngemong. Ia tidak selalu berada di depan, tetapi berusaha hadir di tengah. Mendengar pengurus kecamatan, menyapa kader yang bekerja tanpa sorotan, menganggap pimpinan PK bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan denyut yang membuat partai tetap hidup.

Partai sesungguhnya tidak berdiri di kantor kabupaten. Ia hidup di kecamatan-kecamatan, di desa-desa, di rumah-rumah kader yang memasang bendera ketika musim pemilu datang, lalu tetap menjaga nama partai ketika musim itu berlalu.

Karena itu, menjadi Ketua DPD Golkar Cianjur bukan sekadar memenangkan Musyawarah Daerah. Hal yang lebih sulit adalah memastikan setiap Pengurus Kecamatan merasa dihargai, setiap kader merasa didengar, dan setiap orang percaya bahwa partai ini adalah rumah yang tidak hanya ramai ketika ada perebutan jabatan. Bukan hanya rumah bagi kader melainkan juga rumah bagi seluruh warga Cianjur.

Kita sering keliru memahami kepemimpinan. Kita mengira pemimpin adalah orang yang paling banyak duit atau paling banyak berbicara. Padahal pemimpin justru kerap dikenang karena kemampuannya membuat orang lain bertumbuh. Di situlah ukuran sesungguhnya.

Golkar Cianjur tentu membutuhkan strategi, elektabilitas, dan daya saing. Tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan seseorang yang mampu merawat organisasi. Sebab partai yang besar tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh di panggung. Ia dibangun oleh kesetiaan kader-kader yang bekerja dalam sunyi.

Jika politik adalah soal merebut kekuasaan, organisasi adalah soal menjaga kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah lahir dari kegaduhan. Ia tumbuh perlahan, dari sikap yang konsisten, dari kesediaan mendengar, dan dari kemampuan mengayomi.

Pada akhirnya, itulah yang secara sepatutnya yang dicari Golkar Cianjur. Bukan sekadar seorang ketua, melainkan seorang perawat rumah yang tahu bahwa organisasi hanya akan bertahan jika setiap penghuninya merasa at home, merasa memiliki, dan mampu membangun kejayaan bersama. (Fatha Manggala/Kader Muda Golkar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *