MasaNews.id, Krisis tenaga pendidik masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Cianjur. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur mencatat kekurangan sekitar 1.400 guru untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kondisi ini paling banyak dirasakan sekolah-sekolah di wilayah Cianjur Selatan.
Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ruhli Solehudin, menjelaskan bahwa kekurangan tenaga pendidik tersebut terjadi karena jumlah guru yang memasuki masa pensiun tidak sebanding dengan penambahan tenaga pengajar baru.
“ Sebelumnya memang gencar pengangkatan PPPK penuh waktu dan paruh waktu. Tapi banyak juga yang pensiun, sehingga Cianjur kini kekurangan sedikitnya 1.400 guru,” ujar Ruhli, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, sekolah-sekolah di wilayah pelosok Cianjur Selatan menjadi daerah yang paling terdampak akibat keterbatasan jumlah tenaga pendidik. Kondisi geografis dan persebaran guru turut menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tenaga pengajar secara merata.
Akibatnya, sejumlah guru terpaksa menangani beberapa kelas sekaligus, bahkan mengajar lebih dari satu mata pelajaran untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
“Mayoritas sekolah yang kurang guru ada di Cianjur Selatan. Satu guru bisa mengajar beberapa kelas sekaligus, bahkan beberapa mata pelajaran,” tuturnya.
Ruhli mengakui, ketimpangan jumlah guru tersebut berpotensi memengaruhi efektivitas proses pembelajaran di sekolah. Karena itu, Disdikpora Cianjur tengah berupaya mencari langkah penanganan agar kekurangan tenaga pendidik tidak semakin menghambat kegiatan belajar mengajar.
“Tentu akan berdampak. Makanya kami sedang berupaya mencari solusi, jangan sampai kekurangan guru menghambat kegiatan belajar dan mengajar,” kata Ruhli.
Sebagai langkah jangka pendek, Disdikpora Cianjur menyiapkan skema pemetaan dan redistribusi guru. Melalui kebijakan tersebut, tenaga pendidik dari sekolah yang memiliki kelebihan personel akan diarahkan ke sekolah-sekolah yang masih mengalami kekurangan guru, terutama di wilayah selatan.
“Sambil menunggu adanya pengangkatan guru ASN baru, kami coba lakukan pemerataan guru ke sekolah yang kekurangan guru di selatan. Sehingga terjadi pemerataan pendidikan di Cianjur,” pungkasnya.
Upaya pemerataan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di sekolah-sekolah yang terdampak. Namun, pemenuhan kebutuhan guru secara berkelanjutan tetap menjadi tantangan agar akses dan mutu pendidikan di seluruh wilayah Kabupaten Cianjur dapat terjaga.
